Sabtu, 31 Oktober 2015

7 Fakta Salah Kaprah Tentang Ular di Indonesia

Halo Sobat Rhino! Di Indonesia, mitos menjadi sebuah bagian yang tidak terpisahkan di masyarakat.

Mitos biasanya sangat dipercaya karena diturunkan secara terus - menerus oleh nenek moyang kita hingga terdengar seperti hal yang benar.

Tidak jarang mitos - mitos yang ada membuat kita ketakutan dan menjadi fobia terhadap sesuatu, tidak terkecuali mitos mengenai ular.

Banyak orang merasa jijik, takut dan bahkan menjadi fobia terhadap ular karena mitos yang berkembang di masyarakat.

Padahal pada kenyataannya, beberapa mitos terhadap ular adalah salah. Berikut adalah 7 fakta tentang ular di Indonesia:

ular-tidak-takut-garam


1. Ular Tidak Takut Garam

ular-tidak-takut-garam

Mitos mengenai ular takut garam merupakan mitos paling terkenal.

Banyak para petualang atau pendaki menaburkan garam pada saat berkemah agar terhindar dari ular.

Sebagian besar masyarakat juga biasa menaburkan garam di sekeliling rumah mereka untuk mengusir ular.

Menurut studi yang dilakukan oleh sebuah lembaga studi ular di Indonesia, yayasan Sioux, ular sama sekali tidak takut garam.

Sioux menguji dengan beberapa jenis ular yang ada di Indonesia.

Mereka menaburkan garam di sekitar ular - ular tersebut, dengan jenis garam dan kadar yang berbeda - beda.

Hasilnya, setelah beberapa saat, ular melewati taburan garam tanpa kesulitan sedikitpun.

Hal ini membuktikan bahwa garam tidak efektif untuk mengusir ular.

2. Ular Licin dan Berlendir


ular-licin-dan-berlendir


Jika kita lihat, ular memiliki kulit yang mengkilat.

Sehingga orang mengira ular memiliki kulit yang licin dan berlendir.

Ular dilapisi oleh kulit yang kuat dan lentur.

Namun, tidak seperti manusia, kulit ular tidak memiliki kelenjar keringat.

Sehingga ular tidak akan basah dengan keringat.

Sedangkan lendir dihasilkan dari kelenjar mukus yang terdapat di bawah kulit, terutama pada hewan - hewan moluska (lunak).

Hewan Moluska memiliki kelenjar mukus hampir di seluruh bagian tubuhnya.

Sehingga mereka dapat mengeluarkan lendir yang cukup banyak.

Namun berbeda dengan ular, ular tidak memiliki kelenjar mukus. Jadi ular tidak dapat mengeluarkan lendir dari tubuhnya.

Jadi, mitos yang menyatakan ular berlendir, sudah pasti salah.

3. Tidak Semua Ular Berbisa dan Mematikan


ular-berbisa-mematikan


Bisa pada ular dihasilkan oleh kelenjar saliva atau kelenjar ludah yang termodifikasi.

Kelenjar ini kemudian berkembang menjadi sebuah organ yang bisa dipergunakan untuk bertahan hidup.

Pada beberapa ular, bisa dapat menyebabkan kerusakan fatal pada organ tubuh manusia.

Bahkan bisa menyebabkan kematian.

Ada mitos yang menganggap bahwa semua ular itu berbisa.

Jika tergigit, akan menyebabkan kematian.

Faktanya, dari 500 jenis ular yang diperkirakan hidup di Indonesia,

hanya kurang dari 50 jenis ular berbisa tinggi dan menyebabkan kematian.

Dengan fakta tambahan bahwa sebagian ular berbisa tinggi ini berhabitat di laut.

Artinya, dari semua jenis ular yang hidup di Indonesia,

hanya 10% yang dapat membahayakan bagi manusia.

4. Ular Tidak Tinggal di Sarang

ular-tidak-tinggal-di-sarang

Sarang adalah tempat tinggal yang dibuat dan digunakan sebagai tempat hidup binatang sekaligus merawat anak - anak mereka.

Sarang untuk beberapa hewan dapat berupa lubang.

Banyak orang percaya bahwa ular selalu memiliki sarang sendiri.

Benarkah demikian?

Faktanya, kebanyakan ular hidup nomanen alias tidak menetap pada suatu tempat.

Jika kita lihat ular di sebuah lubang, biasanya si ular itu sedang mencari mangsa yang ada di lubang tersebut seperti tikus.

Ular adalah makhluk hidup yang soliter,

artinya mereka akan hidup sendiri secara mandiri sesaat setelah lahir.

Sehingga bahwa ular tinggal di sebuah sarang tertentu adalah tidak tepat.

5. Ular Berwarna Cerah Belum Tentu Berbisa

ular-berwarna-cerah

Warna tubuh pada ular sangat beraneka ragam.

Dari yang cerah, hingga yang gelap.

Warna tubuh pada ular sangat bergantung pada habitatnya atau lingkungan ia tinggal.

Misalnya sebagian besar ular berhabitat abroreal, atau tinggal di pepohonan.

Rata - rata tubuhnya berwarna kehijauan menyerupai warna dedaunan.

Hal ini akan memudahkan ular untuk melakukan proses penyamaran.

Pada ular dan kebanyakan binatang lainnya, warna cerah biasanya digunakan untuk mimikri atau penyamaran.

Mimikri ini berfungsi untuk menghindari serangan predator yang akan memangsanya.

Selain itu, mimikri biasanya juga digunakan untuk memancing mangsa agar tertarik untuk mendekat, sehingga mudah untuk dimangsa.

Pada ular, tidak semua berwarna cerah pasti berbisa.

6. Ular Tidak Takut dengan Bambu Kuning
ular-dan-bambu-kuning


Bambu kuning yang dalam bahasa latin disebut bambusa vafulgaris merupakan salah satu tanaman dari kelompok bambu yang banyak hidup di wilayah tropis.

Bambu jenis ini memiliki ciri - ciri batang yang beruas - ruas, tinggi, dan berwarna kuning.

Di Indonesia, bambu jenis ini banyak hidup di desa - desa pinggiran sungai atau sebagai tanaman hias di perkotaan.

Selain itu beredar mitos bahwa bambu kuning dipercaya dapat membuat ular lemas dan

dapat mengusir ular seketika.

Apakah anggapan ini benar?

Sebagai hewan melata yang tidak berkaki, ular memiliki daya jelajah tinggi.

Sehingga ular cukup banyak ditemukan di berbagai tempat.

Beberapa ular seperti kobra jawa atau dalam bahasa ilmiah disebut naja sputatrix, sering kali terlihat di area pohon bambu kuning.

Hal ini membuktikan bahwa ular sama sekali tidak takut dengan bambu kuning.

Jadi masih percaya bambu kuning ditakuti ular?

7. Manusia Bukan Mangsa Ular

ular-tidak-memangsa-manusia

Beberapa jenis ular seperti sanca batik atau python reticulatus dapat tumbuh dan berkembang dengan ukuran yang sangat besar.

Berdasarkan penemuan terakhir di Sumatera beberapa tahun yang lalu,

ular jenis ini dapat mencapai ukuran hampir 15 meter dengan berat mencapai 107 Kg.

Dengan kemampuan tumbuh dan berkembang yang sangat luar biasa ini,

timbulah mitos bahwa ular besar ini juga memangsa manusia untuk bertahan hidup.

Namun sebagai bagian dari rantai makanan utama dalam sebuah ekosistem, ular memiliki mangsa dan pemangsanya sendiri.

Mangsa utama ular besar ini adalah mamalia dan roden atau bangsa tikus.

Sedangkan manusia bukanlah mangsa utama ular besar ini.

Sebagai hewan liar, ular memang dapat menyebabkan kepanikan berlebihan.

Sehingga pengetahuan tentang ular tentu akan sangat membantu anda. Dengan begitu anda dapat mengetahui bagaimana cara menghadapai ular dengan benar dan aman.

Semoga artikel mengenai fakta salah kaprah tentang ular di Indonesia ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan sobat rhino.

Kamis, 08 Oktober 2015

Hewan Tapir yang Unik dan Khas

Halo sobat rhino, sudah tahu tentang sahabat rhino yang satu ini? dia macam hewan unik, karena corak warna perpaduan hitam dan putih di badannya. Ditambah lagi hidungnya yang nampak seperti belalai gajah.

Ya, dia adalah Tapir.


Pasti sobat rhino sudah tahu kan. Tapir ini bisa kalian temui di wilayah Sumatra. Khusus untuk tapir yang dari Indonesia ini disebut – sebut sebagai Tapir paling unik. Karena corak warnanya yang tidak dimiliki oleh tapir jenis lainnya.

tapir-asia
Seekor Tapir Asia yang berhasil diabadikan oleh WWF Indonesia

Jenis Hewan Tapir yang Ada di Dunia

Ada berapa jenis tapir yang ada di bumi kita ini ya?

Tapir terdiri dari empat jenis yang tersebar di benua Asia dan Amerika.


Tiga jenis tapir tersebar di Amerika selatan, mereka memiliki nama latin Tapirus bairdii, Tapirus pinchaque, dan Tapirus terrestris. Satu jenis lainnya tersebar di Asia tenggara, yakni Tapirus indicus.


Tapir yang tersebar di Asia dinamakan tapir asia.


Tapir asia tersebar di beberapa negara seperti Burma, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. 


Beberapa bukti kuat paleontologis menyimpulkan bahwa di masa lalu tapir tidak hanya tersebar di wilayah pulau Sumatra saja, tetapi juga di pulau Jawa.

Tapirus Bairdii 

tapir-bairdii
Tapir Bairdii 

Awal mula penamaan Tapirus Bairdii ini untuk menghormati seorang naturalis Amerika yang bernama Spencer Fullerton Baird. Ia yang melakukan perjalanan ke Meksiko pada tahun 1843. Akan tetapi, spesies ini baru didokumentasikan oleh naturalis Amerika lainnya yakni W.T. White.

Tapir Bairdii ini memiliki corak warna pada tubuh yang khas.


Pada bagian bawah pipi hingga tenggorokan berwarna putih krim. Dan bagian tubuh lainnya berwarna cokelat keabu - abuan.


Tapir jenis ini menjadi tapir terbesar di Amerika bagian tengah dan selatan. 


Tubuhnya memiliki panjang rata - rata 2 meter, tetapi dapat berkisar dari 1,8 meter - 2,5 meter (tidak termasuk ekor).  Tingginya sekitar 73 cm - 120 cm.

Tapi yang menjadi terbesar di benua Amerika ini memiliki berat tubuh 150 kg - 400 kg.


Sobat rhino kebayang kan pasti Tapir bairdii ini super besar untuk seukuran tapir.


Ciri tapir bairdii ini juga terletak pada kakinya. Dua kaki depannya memiliki kuku berjumlah empat. Dan dua kaki belakangnya memiliki tiga kuku.


Macam hewan ini dapat ditemui di hutan Amerika tengah, termasuk Belize, Meksiko tenggara, Honduras, Guatemala, Nikaragua, Kosta rika, dan Panama. Binatang ini terancam kelangsungan hidupnya di alam bebas.


Tapirus Pinchaque

tapir-gunung-pinchaque
Tapir Gunung 

Tapirus Pinchaque atau yang biasa disebut dengan Tapir gunung merupakan tapir terkecil kedua diantara 4 jenis tapir lainnya.

Tapir gunung sangat mudah mengenalinya, yakni dapat dilihat dari ciri warna pada badannya.


Keseluruhan badan diselimuti seperti mantel wol yang tebal dengan bibir berwarna putih. Nama Pinchaque sendiri diambil dari istilah "La Pinchaque", binatang imajiner yang menghuni daerah yang sama dengan tapir gunung.


Tapir gunung dewasa bisa mencapai panjang tubuh 1,8 meter. Berat tubuh berkisar 136 kg - 250 kg.


Ciri - ciri tapir gunung yang sudah dewasa, dapat dilihat dari bagian pantat tapir yang membentuk kulit tanpa bulu. Ditambah lagi mata yang awalnya berwarna biru berubah menjadi kecokelatan.


Tapir gunung merupakan tapir yang paling terancam habitatnya.


IUCN mengklasifikasikan tapir gunung sebagai spesies "Langka" pada tahun 1996. Menurut IUCN, sekitar 20% populasi tapir gunung diperkirakan akan punah pada tahun 2014.

Berdasarkan sejarah, Tapir gunung telah diburu untuk diambil dagingnya, jari kaki dan usus dijadikan obat oleh masyarakat.


Sedikit sekali pembiakan untuk tapir jenis ini. Beberapa kebun binatang seperti Los Angeles Zoo, Cheyene Mountain Zoo, San Francisco, dan di Kanada.

Tapirus Terrestris 

tapir-amerika-selatan
Tapir Amerika Selatan

Tapir Terrestris atau disebut tapir Amerika Selatan, adalah mamalia darat terbesar kedua setelah tapir bairdii.

Tapir Amerika Selatan dapat ditemukan di dekat hutan Amazon dan sungai di Amerika Selatan, Venezuela, Guiana, Kolombia, Argentina, Peru, Bilivia, Ekuador.


Keterancaman hidup tapir ini tidak hanya berasal dari manusia, tetapi juga dari binatang predator lainnya. Seperti buaya, anakonda, harimau.


Ciri khas dari tapir ini yakni berwarna kecokelatan pada bagian tubuh, dengan wajah pucat, dan memiliki sedikit jambul. Khusus pada telinganya, terdapat bercak putih yang khas.


Tapir jenis ini dapat mencapai panjang 1,8 m - 2,5 m dengan ekor gemuk pendek berkisar 5 - 10 cm.


Yang membedakan dengan tapir bairdii, tapir Amerika Selatan memiliki berat yang lebih rendah yakni sekitar 225 kg. Pada tapir dewasa beratnya dapat mencapai 150 kg -320 kg.


Tapir Amerika Selatan diakui sebagai hewan yang terancam punah oleh The United State Fish and Wildlife Service pada tahun 1970. Meskipun begitu, Tapir ini memiliki tingkat paling rendah risiko kepunahan dibandingkan jenis tapir lainnya.


Tapirus Indicus

tapir-asia
Tapir Asia

Tapir Indicus atau yang lebih dikenal dengan Tapir Asia merupakan tapir yang berasal dari Asia.

Pemilihan nama "Indicus" berdasarkan  kata Hindia Timur, tempat asal habitat ini.


Di pulau Sumatra, hewan ini lebih familiar dengan sebutan tenuk, gindol, babi alu, kuda ayer, kuda rimbu, kuda arau, marba, cipan, dan sipan.


Ciri khas dari tapir ini yang membedakan dengan tapir jenis lainnya adalah warna putih terang seperti pelana yang menyelimuti tubuh bagian bahu hingga pantat. 


Bagian tubuh lainnya berwarna hitam pekat. Khusus untuk bagian telinga memiliki warna putih. Pola warna ini ternyata untuk mempertahankan diri atau kamuflase terhadap predator.

Tapir Asia dapat tumbuh berkisar antara 1,8 m - 2,4m dengan tinggi sekitar 90 cm - 107 cm. Tapir ini memiliki berat antara 250 kg - 320 kg, beberapa tapir dewasa dapat mencapai berat hingga 540 kg. Seperti jenis tapir lainnya, tapir betina memiliki ukuran dan berat lebih besar dibandingkan tapir jantan.


Dua kaki depannya memiliki 4 kuku dan 3 kuku di kaki bagian belakang.


Tapir Hewan Penyendiri

Tapir tergolong binatang yang soliter. Kecuali pada masa perkawinan.

Tapir tergolong binatang yang memiliki daya jelajah tinggi. Uniknya, tapir memberikan tanda di jalan yang pernah dilaluinya dengan cara dikencingi. Hal ini ia lakukan sebagai tanda daerah kekuasaannya dan sebagai tanda jalan.


Dia memilih daerah dataran rendah, atau lebih banyak mencari daerah yang kaya garam mineral. 


Tapir memiliki kesukaan berada di air, berendam dan berenang menjadi kegemarannya.

Tapir memiliki umur yang relatif panjang. Rata – rata umur tapir dapat mencapai 30 tahun. Meskipun begitu, tapir sudah mencapai dewasa diumur tiga tahun.

Masa kehamilanpun lebih dari satu tahun atau sekitar 400 hari. Tapir betina dapat melahirkan seekor anak tapir setiap dua tahun. Bayi tapir biasanya baru disapih pada saat berumur 6 – 8 bulan.


Tapir muda dari semua jenis memiliki warna coklat dengan bintik – bintik putih yang menyelimuti tubuhnya. Corak warna yang unik ini dipercaya sebagai kamuflase tapir muda berlindung dari musuh.

Tapir Hewan Herbivora


Tapir tergolong macam hewan herbivora. Artinya hanya makan umbi – umbian dan dedaunan. Ada lebih dari 100 jenis tumbuhan yang daunnya dapat dimakan tapir. 30 jenis tumbuhan diantaranya menjadi kesukaan tapir ini.

Selain itu tapir juga suka tunas muda dan buah yang telah jatuh dari pohonnya.


Walaupun penglihatannya lemah, tapir dapat mengandalkan indera penciuman dan pendengaran. Maka dari itu tidaklah sulit bagi tapir untuk mencari makanan atau mendeteksi adanya bahaya.

Baca juga: