Tampilkan postingan dengan label Hewan Langka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hewan Langka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

Hewan Tapir yang Unik dan Khas

Halo sobat rhino, sudah tahu tentang sahabat rhino yang satu ini? dia macam hewan unik, karena corak warna perpaduan hitam dan putih di badannya. Ditambah lagi hidungnya yang nampak seperti belalai gajah.

Ya, dia adalah Tapir.


Pasti sobat rhino sudah tahu kan. Tapir ini bisa kalian temui di wilayah Sumatra. Khusus untuk tapir yang dari Indonesia ini disebut – sebut sebagai Tapir paling unik. Karena corak warnanya yang tidak dimiliki oleh tapir jenis lainnya.

tapir-asia
Seekor Tapir Asia yang berhasil diabadikan oleh WWF Indonesia

Jenis Hewan Tapir yang Ada di Dunia

Ada berapa jenis tapir yang ada di bumi kita ini ya?

Tapir terdiri dari empat jenis yang tersebar di benua Asia dan Amerika.


Tiga jenis tapir tersebar di Amerika selatan, mereka memiliki nama latin Tapirus bairdii, Tapirus pinchaque, dan Tapirus terrestris. Satu jenis lainnya tersebar di Asia tenggara, yakni Tapirus indicus.


Tapir yang tersebar di Asia dinamakan tapir asia.


Tapir asia tersebar di beberapa negara seperti Burma, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. 


Beberapa bukti kuat paleontologis menyimpulkan bahwa di masa lalu tapir tidak hanya tersebar di wilayah pulau Sumatra saja, tetapi juga di pulau Jawa.

Tapirus Bairdii 

tapir-bairdii
Tapir Bairdii 

Awal mula penamaan Tapirus Bairdii ini untuk menghormati seorang naturalis Amerika yang bernama Spencer Fullerton Baird. Ia yang melakukan perjalanan ke Meksiko pada tahun 1843. Akan tetapi, spesies ini baru didokumentasikan oleh naturalis Amerika lainnya yakni W.T. White.

Tapir Bairdii ini memiliki corak warna pada tubuh yang khas.


Pada bagian bawah pipi hingga tenggorokan berwarna putih krim. Dan bagian tubuh lainnya berwarna cokelat keabu - abuan.


Tapir jenis ini menjadi tapir terbesar di Amerika bagian tengah dan selatan. 


Tubuhnya memiliki panjang rata - rata 2 meter, tetapi dapat berkisar dari 1,8 meter - 2,5 meter (tidak termasuk ekor).  Tingginya sekitar 73 cm - 120 cm.

Tapi yang menjadi terbesar di benua Amerika ini memiliki berat tubuh 150 kg - 400 kg.


Sobat rhino kebayang kan pasti Tapir bairdii ini super besar untuk seukuran tapir.


Ciri tapir bairdii ini juga terletak pada kakinya. Dua kaki depannya memiliki kuku berjumlah empat. Dan dua kaki belakangnya memiliki tiga kuku.


Macam hewan ini dapat ditemui di hutan Amerika tengah, termasuk Belize, Meksiko tenggara, Honduras, Guatemala, Nikaragua, Kosta rika, dan Panama. Binatang ini terancam kelangsungan hidupnya di alam bebas.


Tapirus Pinchaque

tapir-gunung-pinchaque
Tapir Gunung 

Tapirus Pinchaque atau yang biasa disebut dengan Tapir gunung merupakan tapir terkecil kedua diantara 4 jenis tapir lainnya.

Tapir gunung sangat mudah mengenalinya, yakni dapat dilihat dari ciri warna pada badannya.


Keseluruhan badan diselimuti seperti mantel wol yang tebal dengan bibir berwarna putih. Nama Pinchaque sendiri diambil dari istilah "La Pinchaque", binatang imajiner yang menghuni daerah yang sama dengan tapir gunung.


Tapir gunung dewasa bisa mencapai panjang tubuh 1,8 meter. Berat tubuh berkisar 136 kg - 250 kg.


Ciri - ciri tapir gunung yang sudah dewasa, dapat dilihat dari bagian pantat tapir yang membentuk kulit tanpa bulu. Ditambah lagi mata yang awalnya berwarna biru berubah menjadi kecokelatan.


Tapir gunung merupakan tapir yang paling terancam habitatnya.


IUCN mengklasifikasikan tapir gunung sebagai spesies "Langka" pada tahun 1996. Menurut IUCN, sekitar 20% populasi tapir gunung diperkirakan akan punah pada tahun 2014.

Berdasarkan sejarah, Tapir gunung telah diburu untuk diambil dagingnya, jari kaki dan usus dijadikan obat oleh masyarakat.


Sedikit sekali pembiakan untuk tapir jenis ini. Beberapa kebun binatang seperti Los Angeles Zoo, Cheyene Mountain Zoo, San Francisco, dan di Kanada.

Tapirus Terrestris 

tapir-amerika-selatan
Tapir Amerika Selatan

Tapir Terrestris atau disebut tapir Amerika Selatan, adalah mamalia darat terbesar kedua setelah tapir bairdii.

Tapir Amerika Selatan dapat ditemukan di dekat hutan Amazon dan sungai di Amerika Selatan, Venezuela, Guiana, Kolombia, Argentina, Peru, Bilivia, Ekuador.


Keterancaman hidup tapir ini tidak hanya berasal dari manusia, tetapi juga dari binatang predator lainnya. Seperti buaya, anakonda, harimau.


Ciri khas dari tapir ini yakni berwarna kecokelatan pada bagian tubuh, dengan wajah pucat, dan memiliki sedikit jambul. Khusus pada telinganya, terdapat bercak putih yang khas.


Tapir jenis ini dapat mencapai panjang 1,8 m - 2,5 m dengan ekor gemuk pendek berkisar 5 - 10 cm.


Yang membedakan dengan tapir bairdii, tapir Amerika Selatan memiliki berat yang lebih rendah yakni sekitar 225 kg. Pada tapir dewasa beratnya dapat mencapai 150 kg -320 kg.


Tapir Amerika Selatan diakui sebagai hewan yang terancam punah oleh The United State Fish and Wildlife Service pada tahun 1970. Meskipun begitu, Tapir ini memiliki tingkat paling rendah risiko kepunahan dibandingkan jenis tapir lainnya.


Tapirus Indicus

tapir-asia
Tapir Asia

Tapir Indicus atau yang lebih dikenal dengan Tapir Asia merupakan tapir yang berasal dari Asia.

Pemilihan nama "Indicus" berdasarkan  kata Hindia Timur, tempat asal habitat ini.


Di pulau Sumatra, hewan ini lebih familiar dengan sebutan tenuk, gindol, babi alu, kuda ayer, kuda rimbu, kuda arau, marba, cipan, dan sipan.


Ciri khas dari tapir ini yang membedakan dengan tapir jenis lainnya adalah warna putih terang seperti pelana yang menyelimuti tubuh bagian bahu hingga pantat. 


Bagian tubuh lainnya berwarna hitam pekat. Khusus untuk bagian telinga memiliki warna putih. Pola warna ini ternyata untuk mempertahankan diri atau kamuflase terhadap predator.

Tapir Asia dapat tumbuh berkisar antara 1,8 m - 2,4m dengan tinggi sekitar 90 cm - 107 cm. Tapir ini memiliki berat antara 250 kg - 320 kg, beberapa tapir dewasa dapat mencapai berat hingga 540 kg. Seperti jenis tapir lainnya, tapir betina memiliki ukuran dan berat lebih besar dibandingkan tapir jantan.


Dua kaki depannya memiliki 4 kuku dan 3 kuku di kaki bagian belakang.


Tapir Hewan Penyendiri

Tapir tergolong binatang yang soliter. Kecuali pada masa perkawinan.

Tapir tergolong binatang yang memiliki daya jelajah tinggi. Uniknya, tapir memberikan tanda di jalan yang pernah dilaluinya dengan cara dikencingi. Hal ini ia lakukan sebagai tanda daerah kekuasaannya dan sebagai tanda jalan.


Dia memilih daerah dataran rendah, atau lebih banyak mencari daerah yang kaya garam mineral. 


Tapir memiliki kesukaan berada di air, berendam dan berenang menjadi kegemarannya.

Tapir memiliki umur yang relatif panjang. Rata – rata umur tapir dapat mencapai 30 tahun. Meskipun begitu, tapir sudah mencapai dewasa diumur tiga tahun.

Masa kehamilanpun lebih dari satu tahun atau sekitar 400 hari. Tapir betina dapat melahirkan seekor anak tapir setiap dua tahun. Bayi tapir biasanya baru disapih pada saat berumur 6 – 8 bulan.


Tapir muda dari semua jenis memiliki warna coklat dengan bintik – bintik putih yang menyelimuti tubuhnya. Corak warna yang unik ini dipercaya sebagai kamuflase tapir muda berlindung dari musuh.

Tapir Hewan Herbivora


Tapir tergolong macam hewan herbivora. Artinya hanya makan umbi – umbian dan dedaunan. Ada lebih dari 100 jenis tumbuhan yang daunnya dapat dimakan tapir. 30 jenis tumbuhan diantaranya menjadi kesukaan tapir ini.

Selain itu tapir juga suka tunas muda dan buah yang telah jatuh dari pohonnya.


Walaupun penglihatannya lemah, tapir dapat mengandalkan indera penciuman dan pendengaran. Maka dari itu tidaklah sulit bagi tapir untuk mencari makanan atau mendeteksi adanya bahaya.

Baca juga: 




Sabtu, 29 Agustus 2015

5 Ciri Badak Jawa Yang Perlu Anda Ketahui



Badak Jawa, saat ini badak Jawa merupakan spesies mamalia yang paling langka di dunia. Diperkirakan jumlahnya saat ini kurang dari 50 ekor. 

Indonesia merupakan negara paling beruntung di muka bumi ini. 

Karena badak ini hanya dapat ditemui di Indonesia. Berlokasi di taman nasional ujung kulon, Jawa barat, badak jawa menjadi daya tarik para peneliti dunia. 

Semakin berkurang jumlah habitatnya, menjadikan banyak organisasi yang peduli terhadap kelangsungan fauna turun tangan. 

Mulai dari WWF (World Wide Foundation), hingga IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). 

Badak merupakan hewan yang pemalu, termasuk badak jawa. Maka dari itu jarang sekali orang yang dapat melihat badak secara langsung (kecuali di kebun binatang). Berikut ini ciri – ciri badak jawa yang perlu Anda ketahui :

Baca juga: Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon

1. Tubuh Yang Unik

© Alain Comfost
Bentuk tubuh yang unik, tidak seperti kebanyakan hewan lainnya. 

Badak Jawa memiliki tubuh yang “kekar”. Kaki yang relatif pendek dibandingkan dengan panjang dan tinggi badak. Menjadikan badak tidak mudah dijatuhkan. 

Meskipun berkaki pendek, badak dapat berlari kencang sekitar 50 km/jam. Kecepatan ini tentu jauh berbeda dengan kerbau yang memiliki kecepatan sekitar 30 km/jam. Padahal bobot kerbau relatif lebih ringan (300 kg). 

Karena bentuk tubuh unik itulah menjadikan badak hanya dapat bergerak maju (walk foreward) dan mundur (walk back foreward). 

Bentuk tubuh tidak hanya bagian dari adaptasi badak terhadap lingkungan. 

Tetapi juga berfungsi untuk menambah kekuatan dalam melakukan serangan menggunakan culanya.

2. Berkuku Ganjil
Cetakan kaki badak jawa
© Save The Rhino
Badak termasuk mamalia berkuku ganjil. 

Tidak banyak jenis mamalia yang masuk dalam kategori hewan berkuku ganjil atau biasa disebut perissodactyla. Contoh hewan yang berkuku ganjil seperti tapir, kuda, zebra, kuda nil.

 Keunikan hewan berkuku ganjil yakni mencerna selulosa tumbuh – tumbuhan di bagian usus, tidak pada lambungnya. 

Bentuk kotoran (feses) dari hasil pencernaan ini berbentuk bola. 

Uniknya badak bukanlah dari keluarga kerbau atau banteng, namun justru masuk dalam keluarga kuda.

3. Bercula Satu

badak jawa

Tidak seperti badak sumatra ataupun badak yang dari afrika, badak jawa justru masuk dalam genus (golongan) yang sama dengan badak india. 

Badak jawa dan badak india sama – sama memiliki satu cula. 

Hanya saja badak jawa memiliki cula yang lebih kecil sekitar 25 cm yang biasa disebut “cula melati”. Sedangkan untuk badak jawa betina hanya cula kecil berbentuk benjolan atau yang biasa disebut “cula batok“. 

Fungsi cula pada badak Jawa ini untuk pelindung diri dari serangan musuh, untuk merobohkan pohon atau tunas sebagai makanannya, dan yang terakhir untuk tanda kekuatan badak dari badak lainnya khususnya bagi badak jantan.

4. Memiliki Kulit Berwarna Abu – abu

warna kulit badak jawa
© Save The Rhino
Pada badak Jawa dewasa, warna abu – abu menjadi ciri khas dari badak yang mendiami taman nasional Ujung Kulon, Jawa Barat ini. 

Tidak hanya itu bentuk kulit yang melipat rapi seolah – olah membentuk tameng baja menambah keeksotisan badak. 

Sedikit bulu atau tidak ada sama sekali dengan corak bintik di seluruh tubuh. 

Setiap orang yang melihat pasti dengan mudah mengenali bahwa hewan tersebut adalah badak jawa. 

Berbeda dengan badak Jawa yang dewasa, badak Jawa yang masih anak hampir mirip dengan badak Sumatra, yakni sebagian besar tubuhnya terdapat bulu halus.

5. Memiliki Bibir Runcing Bagian Atas
© Rhinos

Badak memiliki keunggulan dalam cara meraih makan. Tak hanya dimiliki oleh badak jawa, tetapi juga badak lainnya. 

Bibir runcing keatas atau disebut belalai prehensil ini digunakan untuk meraih makanan. 

Untuk meraih makanan pun badak memiliki dua cara. Pertama, dengan merobohkan makanan yang lebih tinggi dari tubuhnya (pohon, ranting). Kedua, dengan ditarik bilamana jenis makanan berupa rambatan. 

Sumber: 
  • www.wwf.or.id
  • wikipedia
  • www.savetherhino.org
  • www.ujungkulon.org
  •  www.rhinos.org
      Baca juga :





Selasa, 25 Agustus 2015

5 Jenis Badak Ini Terancam Punah dari Muka Bumi


Peta penyebaran badak di dunia
© Save The Rhino

Badak yang dikenal dengan hewan pemalu ini diperkirakan sudah ada sejak jaman purbakala. 

Keberadaannya saat ini semakin memprihatinkan. 

Selain banyaknya hutan yang sudah dialihfungsikan, juga karena masih maraknya perburuan liar. Belum lagi adanya bencana alam dan wabah penyakit yang semakin mengancam kepunahan salah satu hewan purba ini. 

Dari lima jenis badak yang ada di dunia, terdapat dua jenis yang ada di Indonesia. 

Berikut ini lima jenis badak yang terancam punah:
1. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)
© Alain Compost

Badak Jawa menempati urutan pertama sebagai jenis badak yang terancam punah. 

Hal ini dikarenakan banyaknya faktor seperti ancaman letusan gunung krakatau, tsunami, wabah penyakit, dan perburuan liar. 

Badak Jawa memiliki ciri unik dibandingkan jenis badak lainnya. 

Ciri – ciri badak jawa yang paling menonjol adalah memiliki cula yang kurang dari 20 cm. Cula tersebut menjadikan badak Jawa sebagai badak yang memiliki cula paling kecil. 

Populasi badak Jawa saat ini berada di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. 

Badak Jawa ini merupakan mamalia terlangka di muka bumi ini. 

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Balai Taman Nasional Ujung Kulon tahun 2012, diperkirakan badak jawa berjumlah sekitar 51 ekor.

2. Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis)


Badak sumatra (sumatran Rhino)
© Save The Rhino

Badak yang memiliki dua cula ini merupakan jenis badak yang terancam punah selanjutnya. Memiliki ukuran tubuh paling kecil diantara badak lainnya, Badak Sumatera memiliki tinggi sekitar 120 – 145 cm dengan berat 500 – 800 kg. 

Ciri unik dari badak ini adalah rambut halus yang menyebar di seluruh tubuhnya. Sehingga badak ini biasa disebut hairy rhino. 

Banyaknya pengalihfungsian hutan di sumatra menjadi kebun kelapa sawit, menjadikan hewan ini semakin terdesak populasinya. 

Rencana Aksi dan Strategi Konservasi (Dephut, 2007) memperkirakan populasi badak ini kurang dari 300 ekor. 

Badak Sumatra terdapat di Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung dan Bengkulu.

3. Badak India (Rhinoceros unicornis)

Greater one horned
© Save The Rhino
Badak India atau lebih dikenal dengan sebutan Greater One Horned. 

Badak jenis ini memiliki ciri – ciri yang mirip dengan badak Jawa. Seperti memiliki satu cula dan bentuk kulit yang membentuk lekukan tebal. 

Hanya saja badak India memiliki ukuran tubuh lebih besar dan cula yang lebih panjang yakni sekitar 20 – 61 cm. Berat badak India sekitar 1.800 – 2.700 Kg. 

Badak bercula satu ini tinggal di padang rumput dan hutan di wilayah India dan Nepal. 

Berdasarkan sensus yang dilakukan oleh IUCN tahun 2012, populasi badak India ini berjumlah 3.333 ekor.

4. Badak Hitam (Diceros bicornis longipes )

black rhino badak hitam
© Save The Rhino

Badak Hitam atau biasa disebut Black Rhino ini memiliki empat subspesies. 

Badak hitam tersebar di afrika timur, barat, tengah, dan selatan. Jumlah populasi badak hitam menurut IUCN pada tahun 2013 yakni sebanyak 5.055 ekor. 

Pada tahun 2006, jaringan konservasi terbesar di dunia (IUCN) menyatakan badak hitam afrika barat telah punah. Badak ini diburu sampai habis populasinya. Cula badak yang dihargai hingga ratusan ribu dolar ini dijadikan obat – obatan dan gagang pedang di wilayah Asia. 

Badak jenis ini memiliki berat hingga 1.350 kg untuk jantan dan betina bisa mencapai berat 900 kg. 

Walaupun dinamakan badak hitam, namun sebenarnya badak tersebut lebih berwarna abu – abu putih. 

Pemberian nama badak hitam itu sendiri untuk membedakan dengan badak putih (Ceratotherium simum). 

Ini bisa dikatakan kesalahan, karena kedua subspesies tersebut adalah warna yang hampir sama.

5. Badak Putih (Ceratotherium simum)

Badak putih white rhino
© Save The Rhino

Badak putih menjadi jenis badak yang menempati urutan terakhir sebagai badak yang terancam punah. Hal ini bukan tanpa alasan, melihat populasinya yang masih begitu besar yakni 20.405. 

meskipun begitu ancaman perburuan liar masih terjadi. 

Badak ini adalah salah satu badak yang memiliki subspesies. 

Berat tubuhnya yang dapat mencapai 3.000 kg menjadikan badak putih ini mamalia terbesar kedua setelah gajah. 

Selain itu badak putih memiliki dua cula dengan cula pertama bisa memiliki panjang hingga 2 meter.

Itu tadi adalah 5 jenis badak yang terancam punah di muka bumi ini. Mari kita bersama – sama menjaga kelestarian hewan badak tersebut. 

Dan jangan sekali – kali memburunya, karena akan mengancam habitat hewan tersebut. 

Selain itu juga para pemburu akan dikenakan sanksi sesuai UU no. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan PP No. 13 Tahun 1994 tentang perburuan satwa buru.

Sumber :  
·         www.wwf.or.id
·         www.ujungkulon.org
·         wikipedia
·         www.rhinos.org
·         www.savetherhino.org

Baca juga:

1. Tapir, si hewan unik yang mulai langka
2. Kucing - kucing ini menghebohkan Netizen




Sabtu, 22 Agustus 2015

Badak Jawa: Sang Purba dari Ujung Kulon


Badak Jawa yang memiliki nama latin (Rhinoceros sondaicus sondaicus) merupakan mamalia paling langka di muka bumi saat ini. 

Populasi badak Jawa terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Diperkirakan jumlah badak Jawa saat ini hanya berkisar 40 – 50 ekor. 

Spesies ini dinyatakan sangat kritis (critically endangered) habitatnya oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). 

Sebenarnya populasi badak Jawa tersebar di beberapa wilayah asia tenggara khususnya Vietnam. Hanya saja mayoritas sudah punah. WWF (World Wide Foundation) melakukan survei di Cat Tien National Park, dan menyimpulkan bahwa badak Jawa di Vietnam telah punah. Jadi, badak Jawa di Indonesia menjadi satu – satunya spesies badak Jawa yang masih ada. 

Status badak Jawa menjadi dilindungi sejak tahun 1909 (Staatsblaad No. 497 Tahun 1909). 

Karena masih maraknya perburuan liar, penegasan perlindungan dilakukan pada tahun 1931. 

Tahun berganti tahun perburuan masih saja terjadi. Meskipun upaya melindungi sudah dilakukan oleh pihak taman nasional. Terakhir diketahui pada tahun 1988, dimana tertangkap seorang pelaku yang hendak menjual cula hasil buruannya.

Baca juga: 5 ciri badak yang tak banyak orang tahu

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus sondaicus)


Ciri – ciri Fisik Badak Jawa

Badak Jawa memiliki kesamaan dengan badak india. 

Hanya saja badak Jawa memiliki ukuran lebih kecil. Berat badan berkisar 900 – 2.300 kg, dan panjang badan sekitar 2 – 4 meter, serta memiliki tinggi 1,4 – 1,7 meter. 

Warna kulit badak Jawa cenderung abu – abu dengan tekstur kulit berbentuk tidak rata yang memiliki ketebalan 25 – 30 mm. 

Seperti halnya saudaranya badak india, badak Jawa memiliki satu cula. Cula yang dimiliki badak Jawa bisa mencapai panjang hingga 48 cm (Hoogerwerf, 1970). 

Sebagian besar penglihatan badak tidaklah tajam, begitu juga dengan badak Jawa. Namun badak Jawa memiliki pendengaran dan penciuman tajam. Sehingga dapat mengetahui adanya bahaya dari jarak jauh. 

Fase dewasa untuk badak jantan baru tercapai setelah usia 10 tahun. Berbeda dengan badak jantan, badak betina mencapai fase dewasa pada usia 5 – 7 tahun dengan masa mengandung sekitar 15 – 16 bulan.

Badak jawa
© save the rhino

Sejarah Badak Jawa

Bukan tanpa alasan badak merupakan hewan purbakala. Badak pertama kalinya terpisah dari Perissodactyl lainnya pada masa Eosen awal. 

Perissodactyl merupakan mamalia yang memiliki kuku berjumlah ganjil. 

Sedangkan masa Eosen awal merupakan masa dimulainya mamalia modern (baru). Masa Eosen berlangsung 55,8 ± 0,2 hingga 33,9 ± 0,1 juta tahun lalu. Pada masa ini diperkirakan terjadi setelah adanya asteroid yang menimpa bumi. 

Keluarga yang masih ada, Rhinocerotidae, diperkirakan muncul pada awal Eosen akhir di Eurasia. 

Sedangkan leluhur badak modern pertama kali muncul dari Asia di awal Miosen. Genus Rhinoceros yang pertama kali muncul di Asia sekitar 1,6 juta – 3,3 juta tahun lalu. 

Genus Rhinoceros yang saat ini masih ada yakni badak Jawa dan badak india. 

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa badak Jawa dan badak india tidak memiliki hubungan dekat dengan spesies badak lainnya.

 Mereka lebih dekat dengan Gaindetheriumatau Punjabitherium yang telah lama punah.

Habitat Badak Jawa
Javan rhino
© save the rhino

Saat ini habitat badak Jawa hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Dahulu sebenarnya badak Jawa tersebar hampir di seluruh Jawa Barat, Asia tenggara, India, hinga Tiongkok. Namun maraknya perburuan liar, menjadikan badak Jawa ini tinggal tersisa di Indonesia. 

Terakhir ditemukan badak Jawa di wilayah Vietnam, namun tahun 2011, WWF menyatakan bahwa badak Jawa telah punah di negara tersebut. 

Upaya perlindungan yang ketat ditambah lagi mendapat dukungan dari WWF Indonesia, menjadikan pertumbuhan populasi badak Jawa meningkat pada tahun 1967 – 1978. 

Berdasarkan ukuran wilayah jelajah, Taman Nasional Ujung Kulon diperkirakan hanya dapat menampung 50 ekor badak. 

Karena hal tersebut untuk menjaga populasi badak dari ancaman penyakit, bencana alam para ahli menyarankan adanya habitat kedua bagi badak Jawa. 

Lokasi yang diperkirakan cocok untuk badak Jawa yakni Taman Nasional Halimun – Salak, hutan Baduy, Cikepuh, dan Cagar Alam Sancang. Perlindungan dilakukan selain oleh pihak taman nasional, juga dari WWF Indonesia, Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU), dan patroli pantai.

Sumber : 
  • www.wwf.or.id
  • www.ujungkulon.org
  • wikipedia
  •  www.rhinos.org
  • www.savetherhino.org